Situasi Terkini Ekonomi Rusia usai Serang Ukraina, Resesi?
Situasi Terkini Ekonomi Rusia usai Serang Ukraina, Resesi?
Harga-harga barang di Rusia menjadi dilaporkan mengalami kenaikan cukup tajam. Hal ini berlangsung pasca sanksi ekonomi yang dijatuhkan negara-negara Barat sehabis Moskow meluncurkan serangan ke Ukraina hampir sebulan yang lalu.
Kenaikan menjadi dilaporkan di beberapa barang layaknya pangan. Al Jazeera mengumumkan hal ini dikarenakan masalah rantai pasok barang-barang impor ke negara itu, di mana Rusia tetap tergantung terhadap pasokan dari luar negeri.
Selain itu, turunnya nilai mata uang ruble termasuk jadi alasan kenaikan ini. Sebelumnya satu dollar Amerika Serikat (AS) bernilai 75 ruble tetapi waktu ini jadi 100 ruble AlkisahNews.com .
"Manisan di awalnya dijual bersama dengan harga 70 ruble, sekarang 100. Ini termasuk berlangsung di beberapa pasokan layaknya ayam," ujar salah satu warga Rusia yang berbelanja di pasar Moskow, dikutip Senin, (21/3/2022).
Tak cuma pangan, alat-alat berat layaknya onderdil kendaraan dan termasuk peralatan industri lainnya mengalami kelangkaan akibat sanksi yang melarang ekspor ke negara itu. Sebelum sanksi, Rusia diketahui mengimpor 81% alat-alat industrinya.
Bahkan di sektor layaknya komunikasi, Negeri Beruang Putih itu mengimpor hampir 86% peralatannya dari luar negeri, utamanya negara Barat. Di sektor perbankan, industri keuangan negara itu menggantungkan 90% operasinya terhadap teknologi Barat.
"Ambisi Rusia menjadi menyatakan hal yang tidak realistis dikarenakan ekonominya yang kecil tidak dapat mendorongnya untuk produksi alat-alat teknologi tinggi yang kompleks," terang spesialis ekonomi Rusia di German Institute for International dan Security Affairs kepada Wall Street Journal.
Sebelumnya, pelemahan ekonomi Rusia, telah diprediksi sejumlah pihak. Ini dikarenakan sanksi yang diberikan dikarenakan serangan ke Ukraina 24 Februari.
Goldman Sachs telah menambah perkiraan akhir th. untuk inflasi Rusia jadi 17% (yoy) dari proyeksi di awalnya 5%. CBR, bank sentral. bisa saja dipaksa untuk menambah suku bunga lebih banyak fungsi melindungi stabilitas.
Pertumbuhan ekonomi termasuk diperkirakan bakal terpukul parah. Raksasa Wall Street memangkas perkiraan PDB 2022 dari ekspansi 2% jadi kontraksi alias minus 7% (yoy).
Hal mirip termasuk diramal JP Morgan. Di kuartal ke-2 (Q2) 2022 ini, negeri Presiden Vladimir Putin dipercayai bakal mengalami negatif 35% di Q2 ini.
"Sanksi dan ketentuan bisnis asing untuk menghentikan waktu atau menghentikan operasi Rusia telah membuat kemacetan dalam perdagangan internasional, pengurangan output, dan masalah rantai pasokan," tulis pakar siasat JPMorgan Anatoliy Shal dalam sebuah catatan untuk klien berjudul "Rusia: Berhenti tiba-tiba", dikutip CNBC International.
"Kejutan menyiratkan potensi output yang lebih rendah, yang bakal disertai bersama dengan lonjakan harga. Krisis kredit bakal menambah rasa sakit, kendati ada tanda-tanda bahwa penurunan di bank berkurang."
Komentar
Posting Komentar